Sebelum Anda dioperasi, dokter yang baik akan menerangkan
bagaimana jalannya operasi, apa yang dilakukan langkah demi langkah pada anda,
dan komplikasi-komplikasi apa saja yang mungkin terjadi. Komplikasi yang bisa terjadi pada operasi Caesar antara lain :
1. Organ2 sekitar rahim terlukai
Usus besar, kandung kemih dan saluran kencing bisa saja
terlukai pisau bedah saat operasi Caesar, karena organ2 ini letaknya
berdekatan. Selain itu, syaraf juga bisa terlukai. Namun kejadian ini sangat
jarang terjadi.
2. Bayi terlukai
Saat dinding rahim Anda dibuka, bayi bisa terlukai.
3. Perdarahan
Saat operasi perdarahan terjadi akibat sayatan atau
tertinggalnya sisa plasenta, namun perdarahan dapat terjadi lebih lanjut jika
kontraksi rahim tidak baik setelah plasenta dilahirkan. Anda akan mendapatkan
transfusi darah, atau jika saat operasi terjadi perdarahan berat, maka pada
kasus ekstrim akan dilakukan pengangkatan rahim.
4. Problem buang air kecil
Karena saat pembedahan dokter melakukan manipulasi organ
dengan alat-alat (misalnya mendorong kandung kencing supaya tidak ikut tersayat
saat membuka dinding rahim), hal ini dapat menyebabkan otot2 saluran kencing
terganggu, akibatnya kandung kencing tidak sepenuhnya kosong setelah Anda buang
air kecil. Obat anestesi dan penghilang
rasa sakit juga bisa menyebabkan problem ini. Gejala yang bisa dirasakan pasien
misalnya keluarnya beberapa tetes air seni saat batuk, tertawa atau mengejan
(inkontinensia urin).
Gejala yang berat bisa terjadi, yaitu pasien tidak dapat
BAK (retensi urin). Pada kasus seperti ini, akan dipasang selang kateter untuk
membantu mengeluarkan urin. Masalah ini akan berangsur-angsur pulih saat otot2
panggul dan saluran kencing sudah beradaptasi.
Untuk menghindari masalah ini, biasakan melakukan latihan otot dasar
panggul.
5. Infeksi
Infeksi dapat terjadi misalnya karena kurangnya sterilitas
alat-alat operasi, adanya retensi urin, luka operasi yang terkontaminasi atau
melalui transfusi darah. Infeksi bakteri pada umumnya dapat ditangani baik
dengan antibiotik.
6. Perlengketan
Resiko perlengketan plasenta pada rahim (plasenta akreta)
meningkat pada ibu yang menjalani operasi Caesar. Perlengketan juga bisa
terjadi jika darah, jaringan plasenta atau jaringan rahim (endometrium)
tertinggal dan menempel pada usus atau organ dalam lainnya.
7. Trombus dan emboli
Obat bius membuat otot-otot berelaksasi selama operasi,
dimikian pula dengan otot-otot pembuluh darah. Hal ini membuat aliran darah
melambat, konsekuensinya adalah resiko pembentukan trombus dan emboli
meningkat. Trombus adalah bekuan darah yang dapat menyumbat aliran darah.
Bekuan darah ini dapat terbawa aliran darah sehingga menyumbat pembuluh darah
di kaki, paru-paru, otak atau jantung.
Hal ini bisa berakibat fatal, misalnya
jika penyumbatan di otak dan jantung, maka dapat menimbulkan kematian. Kejadian
ini amat sangat jarang terjadi. Di jerman, sebelum pasien dioperasi Caesar,
pasien dipakaikan kaus kaki khusus anti-trombus, setelah operasi diberikan
suntikan pencegah thrombus dan pasien segera dimobilisasi, hari ke-5 pasca
operasi pasien boleh pulang.
8. Emboli air ketuban
Ini terjadi apabila cairan ketuban beserta komponennya masuk
ke dalam aliran darah ibu dan menyumbat pembuluh darah. Emboli air ketuban
dapat terjadi pada persalinan normal ataupun operasi Caesar, karena pada saat
persalinan terdapat banyak pembuluh darah yang terbuka. Kejadian ini amat
sangat jarang terjadi.
Dengan adanya artikel ini, bukan untuk menakut-nakuti ibu
yang akan menjalani operasi Caesar, namun untuk menginformasikan bahwa tindakan
operasi Caesar bukannya tanpa resiko dan komplikasi. Adanya penjelasan oleh
dokter akan menepis tuduhan malapraktik bila terjadi komplikasi seperti di
atas.
SEMOGA BERMANFAAT!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar